Senin, 17 April 2017

Spiral

      Rekayasa Perangkat Lunak (Model Spiral)

Pada tugas RPL kali pertama ini saya di tugaskan untuk memilih salah satu paradigma, adapaun macam-macam paradigma yang ada dalam RPL adalah sebagai berikut:
  1. Model Sekuensial Linier
  2. Model Prototipe
  3. Model RAD (Rapid  Aplication Development)
  4. Model Pertambahan (Incremental Model)
  5. Model Spiral
  6. Model Rakitan Komponen
  7. Model Perkembangan Konkuren
  8. Dll.
Okeh dari beberapa paradigma diatas saya lebih memilih model paradigma Spiral. Berikut adalah penjelasan mengenai model spiral:
Model spiral yang pada awalnya diusulkan oleh Boehm adalah model proses perangkat lunak yang evolusioner yang merangkai sifat iteratif dari prototipe dengan cara kontrol dan aspek sistematis dari model  sekuensial linier. Model itu berpotensi untuk penengembangan versi pertambahan perangkat lunak secara cepat. Didalam model spiral, perangkat lunak dikembangkan di dalam suatu deretan pertambahan. Selama awal iterasi, rilis incremental bisa merupakan sebuah model atau prototipe kertas. Selama iterasi berikutnya , sedikit demi sedikit dihasilkan versi system rekayasa yang lebih lengkap.
Model spiral sendiri dibagi menjadi 6 (enam) aktifitas kerangka kerja atau bisa disebut dengan wilayah tugas antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Customer Communication : tugas-tugas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi yang efektif di antara pengembang dan pelanggan.
  2.  Planing : tugas-tugas yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sumber daya, ketepatan waktu, dan proyek informasi lain yang berhubungan.
  3. Risk Analysis : tugas-tugas yang dibutuhkan untuk menaksir risiko-risiko baik manajemen maupun teknis.
  4. Engineering : tugas-tugas yang dibutuhkan untuk membangun satu atau lebih representasi dari aplikasi tersebut.
  5. Construction & Release : tugas-tugas yang dibutuhkan untuk mengkonstruksi, menguji, memasang (install) dan memberikan pelayanan kepada pemakai (contoh pelatihan dan dokumentasi)
  6. Customer Evaluation :  tugas-tugas yang dibutuhkan untuk memperoleh umpan balik dari pelanggan dengan didasarkan pada evaluasi representasi perangkat lunak yang dibuat selama masa perekayasaan dan diimplementasikan selama masa pemasangan.



 Gambar 1.1 Model Spiral Tipikal
Ketika proses revolusioner ini mulai, tim rekayasa perangkat lunak bergerak searah jarum mengelilingi spiral tersebut dengan dimulai intinya. Lintasan pertama putaran spiral menghasilkan perkembangan dari spesifikasi produk, putaran selanjutnya digunakan untuk mengembangkan sebuah prototipe, dan secara progresif mengembangkan versi perangkat lunak yang lebih canggih. Masing-masing lintasan yang melalui daerah perencanaan menghasilkan penyesuaian  rencana proyek. Biaya dan jadwal disesuaikan berdasarkan umpan balik yang disimpulkan dari evaluasi pelanggan. Sebagai tambahan, manager proyek menyesuaikan jumlah iterasi yang direncanakan yang dibutuhkan untuk melengkapi perangkat lunak.
Tidak seperti model proses klasik yang berakhir pada saat perangkat lunak sudah disampaikan, model spiral bisa disesuaikan agar perangkat lunak bisa dipakai. Sebuah sumbu titik masuk proyek (project entry point) bisa didefinisikan seperti pada gambar 1.2. setiap kubus yang diletakan sepanjang sumbu mewakili titik awal untuk sebuah tipe proyek yang berbeda. Sebuah proyek perkembangan konsep  (concept development project) berawal dari inti spiral dan akan terus berlangsung sampai perkembangan konsep itu terlengkapi. Jika konsep tersebut akan dikembangkan kedalam sebuah produk actual, proses tersebut akan berlangsung melalui kubus selanjutnya dan berarti sebuah proyek perkembangan baru telah dimulai. Produk yang baru  tersebut akan melewati sejumlah iterasi yang mengelilingi spiral, mengikuti lintasan yang mengikat daerah yang mempunyai arsiran yang lebih terang dibandingkan daerah inti. Aliran proses yang sama juga berlangsung untuk tipe-tipe projek yang lain.

Gambar 1.2 Model Spiral yang disesuaikan untuk siklus hidup bagian dalam
Pada dasar spiral, ketika ditandai dengan cara tertentu, tetap bersifat operatif sampai perangkat lunak itu tidak digunakan lagi. Ada saat-saat dimana proses mengendor tetapi kapan saja sebuah perubahan dilakukan, proses akan dimulai lagi pada enti poin yang sesuai.
Model spiral menjadi sebuah pendekatan yang realistis bagi perkembangan system dan perangkat lunak skala besar. Karena perangkat lunak terus bekerja selama proses bergerak. Pengembang dan pemakai memahami dan bereaksi lebih baik terhadap risiko dari setiap tingkat evolusi. Model spiral menggunakan prototipe sebagai mekanisme pengurangan risiko. Tetapi yang lebih penting lagi, model spiral memungkinkan pengembang menggunakan pendekatan prototipe pada setiap keadaan di dalam evolusi produk. Model spiral menjaga pendekatan langkah demi langkah secara sistematik seperti yang diusulkan oleh siklus kehidupan klasik, tetapi memasukannya ke dalam kerangka kerja iterative yang secara realistis merefleksikan dunia nyata. Model spiral membutuhkan pertimbangan langsung terhadap risiko teknis pada semua keadaan proyek, yang dipakai secara benar akan mengurangi risiko sebelum menjadi sangat problematik.

[Refferensi]
Pressman, Roger S, 2002, “Rekayasa Perangkat Lunak pendekatan praktisi (Buku Satu), Andi, Yogyakarta ”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar